Senin, 27 Oktober 2008

:: JudgE in FriEnds ::

Hari ini ku syukuri karunia yang telah ku dapat yaitu bertambahnya usia dengan berbagi bersama teman-teman terdekat yang ku sayangi…
Lama tak bersua karena kesibukan masing-masing membuat hati ini semakin merindu untuk berjumpa dan bercanda…
Tlah ku nanti hari ini…
Membuatnya berjalan sempurna...
Ku rencanakan dan ku sampaikan kepada mereka 1 hari sebelumnya untuk meluangkan waktu sedikit saja...
Ku pasrahkan seandainya memang tak bisa berkumpul semua karena kepentingan masing-masing yang tak bisa ditunda...

Tak ada kabar pasti siapa yang bisa hadir dan tidak...
Tak ada rencana untuk pergi berangkat bersama seperti biasanya...
Terasa sepi sekali...
Aku mengajak salah seorang menjadi temanku di perjalanan, aku menjemputnya...

Ada kabar telat datang dari seseorang membuatku sedikit kecewa....
Sudah aku bayangkan betapa telatnya nanti...
Dan membuatku merelakannya tidak datang hingga sering kali aku melihat ke arah pintu masuk mencari sosok bayangannya untuk muncul...

Hingga aku menerima telepon yang tak aku kenal no.nya tapi aku mengenali suaranya...
Itu dia...
Dia mengatakan dia masih mencari jilbab... sedangkan saat itu sudah hampir setengah sembilan malam...
Hhh... apa benar dia bisa datang...
Aku menjadi berharap dia tidak usah datang daripada melihat suasana hatiku yang penuh luka...

Datang lah dia dengan kakak kesayangannya bak anak kembar melangkah ke dalam dengan wajah tanpa dosa dan langsung menyapa, membaur, bercanda heboh dengan yang lain, membuatku merasa tidak nyaman...
Aku membuat diriku sebiasa mungkin...
Menahan munculnya aura kecewa...
Mencoba untuk tersenyum dan tertawa...
Menjadikannya sebuah topeng yang sangat manis...

Aku hanya berpikir, tak bisa kah dia mencari jilbab esok harinya?
Aku tahu dia sibuk dan begitu senangnya dengan wisuda yang akan datang 2 hari lagi...
Sehingga dia mencoba merencanakan semuanya sesempurna mungkin hingga tak bisa meluangkan waktu 2 jam untuk menghargai undangan yang telah aku siapkan...

Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja...
Aku menganggapnya demikian...
Aku terlalu berlebihan...
Wajar saja seandainya dia melakukan itu...
Dia memang sibuk dan mungkin aku yang tidak tepat menentukan waktu...

Semuanya selesai...
Berakhir dengan salam-salam perpisahan di sana...

Malam itu...
Temanku yang menemaniku di perjalanan tadi meneleponku...
Dan kami saling bertukar cerita...
Ia menceritakan kekecewaan yang teramat sangat pada temanku yang datang terlambat tadi...
Ia mengganggap bahwa dia sudah datang seenaknya telat kemudian meminta kami semua untuk kumpul pada acara wisudanya dengan tepat waktu dan memberinya karangan bunga, menyambutnya keluar dari gedung pertemuan...
Ia menjadi begitu kecewa, perlakuan seenaknya yang diterima...

Tanpa disadari...
Aku meneteskan air mata...
Ia saja merasa kecewa dengan perlakuan itu, apalagi aku yang menjadi tuan rumah acara kumpul-kumpul tadi...
Tiba-tiba terasa sakit hati ini tapi tak bisa berbuat apa-apa...
Aku masih menghargainya sebagai seorang sahabat...
Mencoba memakluminya meskipun merasa tidak adil diperlakukan seperti itu oleh teman sendiri...

Tidak dipungkiri, ingin sekali mendapatkan apa yang diinginkan...
Semua orang pasti juga seperti itu...
Aku... ingin sekali mendapat perlakuan lebih di saat moment seperti ini...
Aku sebenarnya menginginkan sesuatu yang lebih berguna...
Tapi aku tak biasa meminta secara tegas kepada mereka...
“Pekewuh” kalau tidak salah orang Solo menyebutnya seperti itu...
alias sungkan atau takut dibilang tidak sopan karena menjadi terkesan agak lancang atau tidak tahu malu...

Alhamdulillah, banyak hadiah yang aku dapatkan begitu indah...
Mudah-mudahan bisa berguna untuk kebaikan nantinya..
Amien...

Mereka pernah bertanya sekali, tetapi ketika itu sama sekali tidak ada keinginan di benakku...
Dan aku meminta waktu untuk berpikir...
Hingga aku menemukan apa yang aku mau, namun tak tahu bagaimana memberi isyaratnya...
Tapi kemudian mereka tidak memberi aku kesempatan untuk menjawab apa yang aku inginkan...
Padahal sebelum-sebelumnya beberapa dari mereka memaksa menentukan hadiah yang mereka inginkan...
Teman-teman pada menyetujui dengan alasan daripada yang diberikan tidak disukai sehingga tidak pernah dipakai...
Dan memaksakan diri untuk mengumpulkan uang lebih banyak demi hadiah sempurna itu...
Sungguh kecewanya aku tentang itu...
Betapa tidak menghargainya pemberian dari orang lain...
Menilai pemberian dari isinya bukan dari ketulusan atau usaha untuk mendapatkannya...

Adakah sebuah hukum keadilan dalam berteman...?
Di mana setiap pihaknya harus saling tenggang rasa, menghargai, toleransi, memberi dan menerima...
Ke mana aplikasi pelajaran PMP atau PPKN yang telah dipelajari selama kurang lebih 10 tahun hingga hapal di luar kepala katanya...
Begitu hapalnya di luar kepala kian menjadi terbang ntah pergi tanpa arah...
Bisa kah aku menuntut keadilan dalam berteman...?
Pada siapa aku mengajukan tuntutan...?
Pada siapa aku mendapatkan pembelaan...?
Dan siapa yang akan menjadi hakimnya yang menentukan hasil akhirnya...?

Ya... memang hanya Allah yang layak menjadi hakim yang seadil-adilnya...
Hanya di pengadilan Allah yang bisa menentukan baik atau buruknya dan seperti apa sanksinya...
Dan hanya Allah yang bisa menjadi pembela sekaligus jaksa penuntut dari kita...
Mengingatkan kita, memberi tahu kita, tidak selamanya kita bisa merasa benar...
Karena kebenaran itu mutlak milikNya...



seperti yang dikatakan seorang teman...
ikhlas aja...
dan seorang teman lainnya juga menyampaikan bahwa ikhlas dan sabar adalah kunci kehidupan...
ok... aku coba, aku pelajari... meskipun susah di awalnya....
Bissmillah....

0 komentar: